Komnas Perlindungan Anak : Pelaku geng RAPE Di Garut Terancam Pidana Penjara Seumur Hidup

KiLASMETRO.COM, JAKARTA
Kejadian memiluhkan yang dialami ES (15) warga Garut mengingatkan kembali atas kasus-kasus kejahatan seksual terjadi sebelumnya di Garut Jawa Barat.

Kapolres Garut AKBP Dedi Junaedi Ferdiansyah membenarkan bahwa kejadian itu dilakukan pelaku secara bersama pada Senin (30/09/2019) lalu. Dan saat ini kasusnya telah ditangani unit PPA Satreskrim Polres Garut.

“Pelaku kejahatan seksual ini dilakukan oleh 3 orang dewasa diantaranya US (44) IR (18) dan MA (22) dan 3 orang yang masih dibawah umur 17 tahun yakni SJ, A dan BA”, ungkap AKBP Dedi.

Menurutnya, dalam kejadian itu polisi juga mengamankan dua orang perempuan yang mengetahui persis peristiwa perkosaan tersebut masing-masing berinisial HS dan NN. “Untuk sementara yang kita amankan sebanyak 8 orang dan masih dilakukan pemeriksaan secara intensif”, katanya.

Berdasarkan keterangan korban kejadian, lanjut AKBP Dedi, tersebut berawal saat korban diajak pergi oleh SG dan A ke tempat kejadian pada Senin 30 September 2019. Selanjutnya korban bertemu dengan yang diduga pelaku UI, MA dan BA.

Selanjutnya, kata AKBP Dedi, korban diberikan minum keras jenis Amer atau Anggur Merah, mengakibatkan korban mabuk.Dalam keadaan mabuk itulah korban disetubuhi secara bergantian oleh tiga laki-laki dewasa dan tiga anak di bawah umur itu.

“Kasus perkosaan tersebut terungkap setelah diduga pelaku Ujang dan Ilham mengantar pulang korban dan bertemu dengan orang tua korban. Saat itu orang tua korban curiga dan segera melaporkan kepada pihak Polsek Cisompet”, imbuhnya.

Komnas Perlindungan Anak Indonesia dan Kantor Perwakilan Komnas Perlindungan Anak di Jawa Barat mencatat dalam kurun waktu satu tahun 2018 – 2019 telah mencatat sekitar 129 kasus pelanggaran hak anak di wilayah hukum Kabupaten Garut.

Dari 52% diantaranya dominasi oleh kasus kekerasan seksual baik dilakukan secara perorangan maupun bergerombol oleh orang dewasa dan usia anak-anak dan selebihnya kasus-kasus kekerasan dalam bentuk lain seperti penelantaran, adopsi ilegal, penganiayaan dan perdagangan anak untuk tujuan seksual komersial maupun eksploitasi ekonomi.

Muncul pertanyaan fenomena sosial apakah yang terjadi di Garut, sementara semua orang tahu bahwa wilayah Garut adalah wilayah religius yang taat dan menjunjung nilai-nilai keagamaan. Formulasi apa yng bisa dilakulan untuk memutus mata rantai kekerasan terhadap anak di Garut, Jawa Barat dan Indonesi.

Kasus kejahatan seksual bergerombol ini tidak bisa dianggap atau tempatkan sebagai kejahatan biasa.

“Apa yang dirasakan dan dialami korban adalah merupakan kejahatan luar biasa extraordinary crime dan “leg specialis”, oleh karenanya penangannya juga patut luar biasa dan khusus”, demikian disampaikan Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak indonesia kepada awak media, Kamis (03/10/2019).

Meningkatnya jumlah kejahatan seksual terhadap anak di Garut dan secara khusus mencermati peristiwa geng RAPE yang menimpah ES, mengundang Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Indonesia (Komnas Anak) Arist Merdeka Sirait, untuk segera melakukan koordinasi penegakan hukumnya dengan Polres Garut dan kepada aparatus penegak hukum lainnnya Jaksa dan Hakim di Garut untuk menetapkan UU RI Nomor : 17 tahun 2016 tentang Penerapan PERPU Nomor : 01 Tahun 20016 tentang Perubahan kedua atas UU RI Nomor : 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak junto UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana kurungan minimal 10 tahun dan maksimal 20 tahun dan dapat juga terduga pelaku diancam dengan hukuman seumur hidup dan atau dikenakan hukuman tambahan kebiri (kastrasi) yang dilakukan melalui suntik kimia kecuali kepada pelaku yang masih berusia anak.

“Korban ES (15) yang telah menjadi perhatian khusus Komnas Perlindungan Anak adalah merupakan Warga Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Garut Jawa Barat adalah korban perkosaan yang dilakukan 5 pria usai pesta minuman keras atau miras”, terangnya.

Lebih lanjut, cerita Arist, Sebelumnya korban sempat diberi minuman keras sehingga ES mabuk tak sadarkan diri di rumah kosong di Kampung Cikuya desa Sukamukti Kecamatan Sisompet Garut.

Atas peristiwa gengRAPE ini, Komnas Perlindungan bersana Kantor Perwakilan Komnas Perlindungan Kabupaten Garut segera bertemu korban dan keluarganya untuk memberikan dampingan hukum dan reintegrasi psikososial korban dan segera pula melakan kordinadi penegakan hukum dengan Polres Garut.

“Secara khusus Komnas Perlindungan Anak memberikan apresiasi kepada Kapolres Garut dan jajaran Satreskrimum atas kerja cepatnya mengungkap kasus kejahatan seksual yang menimpah ES. Saya percaya bahwa Kapolres dan jajaran Satreskrimum punya komitmen tidak ada toleransi terhadap segala bentuk kejajatan seksual khususnya terhadap anak”, demikian ditegaskan Arist. (komnaspa/huda).

Bagikan melalui :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •   
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan