Gandakan Mata Uang Rupiah, Tujuh Pria Ini Diamankan Tim Jaka Tingkir

KiLASMETRO.COM, LAMONGAN – Tim Jaka Tingkir Satreskrim (Satuan Reserse Kriminal) Polres Lamongan berhasil mengamankan 7 (tujuh) orang tersangka karena diduga telah memalsukan, menyimpan, membelanjakan dan mengedarkan mata uang rupiah dengan modus penggandaan uang.

“Berawal dari informasi masyarakat Lamongan adanya modus penggandaan uang. Berpura-pura menjadi dukun, dengan iming-iming uang asli sebesar Rp. 8 juta bisa menggandakan menjadi Rp. 300 juta”, ungkap Kapolres Lamongan AKBP Feby DP Hutagalung,S.IK,M.H kepada sejumlah awak media saat press release di Mapolres Lamongan, Kamis (10/10/2019).

AKBP Feby mengatakan, dari informasi tersebut, kemudian Tim Jaka Tingkir menyelidiki lebih mendalam dan menyamar berpura-pura (red_membutuhkan uang). Alhasil di tempat kejadian perkara (TKP) rumah Awinoto, Desa Girik, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan pada tanggal 03 Oktober kemarin, petugas berhasil mengamankan uang palsu sebesar Rp. 304 juta.

“Petugas juga mengamankan 6 (enam) tersangka di TKP yakni Sinto (41) warga Nganjuk, Supari (45), warga Jombang, Heri (58), warga Jember, Sampun (42) warga Nganjuk, Pariyanto (36) warga Nganjuk, dan Ahmad Hamid (37) warga Wonosobo”, bebernya.

Lebih lanjut, AKBP Feby menjelaskan, dari penangkapan tersebut dikembangkan oleh pihaknya, sehingga berhasil mengamankan satu tersangka lainnya yang berperan sebagai pembuat (produsen) uang palsu yakni H. Romlan (53) warga Kenjeran Kota Surabaya.

Lihat juga videonya :

“Sedangkan untuk Awinoto sebagai pemilik rumah merupakan tersangka lainnya sebagai penyedia sarana selama dua bulan terakhir tempat modus penggandaan uang yang masih dalam proses pengejaran”, terang Kapolres Lamongan.

Menurutnya, sampai dengan tertangkapnya ketujuh tersangka belum ada korban yang melapor karena merasa dirugikan. Jadi terungkapnya perkara ini merupakan inisiatif pihaknya atas informasi yang diberikan masyarakat.

“Dari kualitas uang palsu yang dihasilkan sangat rendah, dugaannya tersangka menggunakan modus kejahatan kick and run, karena dilakukan malam hari. Dugaan karena dengan berbagai persyaratan dan uang hasil penggandaan diletakkan di dalam kardus, besar kemungkinan korban tidak menyadari saat sudah jauh dari lokasi”, papar pria berpangkat melati dua.

Kapolres Lamongan menegaskan, ketujuh tersangka memiliki peran masing-masing dalam menjalankan aksinya. “Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, mereka kami jerat dengan Pasal 36 ayat 1 jo 26 ayat 1 UU RI No. 7 tahun 2011 dan Pasal 36 ayat 2 jo 26 ayat 2 UU RI No. 7 tahun 2011 tentang Mata Uang Jo Pasal 55 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara”, pungkas Kapolres AKBP Feby DP Hutagalung.

Sementara, Heri (58), warga Dusun Krajan, Desa Sumber Katempa Kecamatan Kalisat, Jember, menjelaskan proses bagaimana dirinya memerankan sebagai dukun penggandaan uang.

“Sebenarnya yang mengatur itu yang punya rumah (Awinoto). Jadi segala peralatan apapun yang ada dilokasi sudah diatur oleh yang punya rumah. Saya hanya kebagian membaca doa. Justru dukun sebenarnya itu yang punya rumah. Karena saya sendiri tidak bisa membaca doa-doanya”, aku Heri sambil mempraktekkan prosesi penggandaan uang. (huda).

Bagikan melalui :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •   
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan