Komnas Perlindungan Anak : Kekerasan Terhadap Anak Di Simalungun Terulang Lagi

Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait (foto : komnaspa/koko).

KiLASMETRO.COM, JAKARTA – PS (30) warga Kecamatan Dolok Panribuan, Kabupaten Simalungun dilaporkan tetangganya sendiri ke Polsek Dolok Panribuan karena diduga telah melakukan kekerasan dan penyiksaan terhadap putri kandungnya sendiri sebut saja Bunga (7) dengan cara memukul, menendang dan merendam korban didalam drum berisi air tanpa busana.

Saksi mata ES (26) dalam laporannya menjelaskan pada hari Minggu (20/10) sekira pukul 15.00 WIB. Ketika ES baru kembali dari gereja dan saat makan siang bersama keluarga di rumahnya, tiba-tiba dirinya mendengar suara tangisan dari arah rumah korban.

“Saat itu terdengar tangisan anak, saya langsung bergegas menuju lokasi sumber. Setiba di rumah (sumber) saya melihat Bunga dalam keadaan menangis dimana posisinya berdiri di dalam drum yang berisi air. Kemudian sontak saja saya langsung mengangkat Bunga (korban) yang memakai sehelai benangpun”, ujar ES.

Setelah mengamankan anak itu, pria yang sehari-hari sebagai petani tersebut, dengan serius mengajak Ibu korban berbincang untuk mengetahui kenapa ibu korban tega menghukum anaknya. “Dari pada Bunga mati, lebih baik saya bawa dulu ya bu”, pinta ES kepada Ibu Bunga.

Dengan nada emosi, Ibu Bunga menjawab, silakan dibawa asal dengan satu syarat jangan sampai dirinya mendengar anaknya tersebur melakukan pencurian lagi.

“Baik, kalau begitu bu, Bunga saya bawa kerumah”, jawab ES kepada Ibu korban.

Dalam kondisi wajah dan seluruh tubuh korban sudah dalam keadaan lemah dan luka-luka akibat dianiaya pelaku, ES membawa pulang korban kerumahnya. Dan selanjutnya oleh ES dibawa berobat ke Puskesmas Pondok Bulu.

“Keesokan harinya saya laporkan pelaku (Ibu Bunga) ke Polsek Dolok Panribuan agar pelaku ditangkap dan dituntut sesuai hukum berlaku”, jelas ES.

Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait menyampaikan, atas perbuatan PS melakukan kekerasan fisik terhadap putri kandungnya sendiri, sesuaidengan ketentuan pasal 81 UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor : 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

“Pelaku dapat diancam dengan kurungan Pidana penjara minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun. Dan karena pelaku adalah orang tua kandung korban maka berdasarkan ketentuan pasal 83 dari UU RI No. 35 Tahin 2014 tentang perlindungan anak, pelaku dapat dikenakan tambahan pidana penjara sepertiga dari pidana pokoknya”, ungkap Arist Merdeka Sirait, kepada sejumlah media melalui rilisnya, Selasa (22/10/2019).

Lebih lanjut, Arist Merdeka Sirait, menjelaskan, jika pelaku masih mempunyai anak balita, KOMNAS Perlindungan Anak meminta Polres Simalungun untuk menyerahkan korban dan adik-adik korban kepada Dinas Sosial Kabupaten Simalungun untuk menjadi pengasuh alternatif sampai proses hukum dijalani pelaku dan atau menyerahkan korban kepada ayah dan atau keluarga inti dari korban.

Dengan demikian, kata Arist, tidak ada alasan bagi Polres Simalungun tidak menahan pelaku untuk dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan yang nyata-nyatanya melakukan kekerasan terhadap anaknya dan melanggar hukum.

“Namun kami sangat percaya atas komitmen Polres Simalungun untuk tidak berkompromi terhadap segala bentuk kekerasan terhadap anak, siapapun pelakunya”, paparnya.

Untuk mengawal kasus ini, Arist segera meminta Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Simalungun, sebagai perwakilan Komnas Perlindungan Anak dan Tim Relawan Sahabat Anak Indonesia wilayah Simalungun mendampingi korban serta memberikan terapy psikososial serta melakukan kordinasi dengan Dinas Sosial dan Dinas PPPA Kabupaten Simalungun.

“Atas perhatian dan kepedulian ES yang telah menyelamatkan korban dari kekerasan, KOMNAS PERLINDUNGAN ANAK memberikan apreasi yang setinggi-tingginya dan tindakan ini sangat diperlukan sebagai upaya memutus mata rantai kekerasan terhadap anak”, pungkas Arist. (komnaspa/huda).

Bagikan melalui :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •   
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan