Karyawan PT.BYI Diadukan Ke Polres Lamongan Diduga Peras Dan Tindakan Asusila

KiLASMETRO.COM, LAMONGAN – MW salah satu karyawan PT. Bulyet Indonesia (BYI) yang ada di Kabupaten Lamongan dengan didampingi pihak keluarga, Kecamatan Sugio mengadukan mandornya ke Polres Lamongan karena dugaan telah melakukan tindak pidana pemerasan dan asusila.

“Selaku pihak keluarga, saya mendampingi warga untuk menyampaikan pengaduan ke Polres Lamongan karena mengalami dugaan tindak pidana pemerasan dan asusila”, ujar Hardian Permana, kepada awak media KilasMetro.com di ruang tunggu Satreskrim Polres Lamongan, Kamis (24/10).

Hardian mengatakan, keluarga dekatnya yang menjadi korban dugaan tindak pidana pemerasan dan asusila yang dilakukan oleh atasan salah satu karyawan PT. BYI bernama MW.

“Korban di rekam video saat hijab dan bajunya dilepas hingga hampir telanjang di salah satu perumahan di Kecamatan Tikung. Kemudian oleh atasan atau mandornya tersebut rekam video dijadikan alat untuk memeras MW”, bebernya menyampaikan kronologi yang sempat diceritakan korban.

Kemudian hasil rekam video tersebut, Hardian menambahkan, digunakanlah oleh R (30) atasan MW untuk mengancam korban dengan cara harus melayani dua pria atau memberikan uang tebusan sebesar Rp. 1 juta.

“Namun korban tidak mau melayani dua pria yang disiap oleh R janda warga Sukodadi tersebut. Sehingga MW memberikan uang tebusan sebesar Rp. 1 juta”, kata pria yang telah terpilih sebagai Kepala Desa Gondanglor dalam Pilkades serentak se-Kabupaten Lamongan.

Sementara, MW usai keluar dari Unit PPA Satreskrim Polres Lamongan menjelaskan, R merupakan atasan atau mandornya di pabrik PT.BYI Lamongan. Tindakan tersebut tidak hanya menimpah pada dirinya saja.

Lihat juga videonya :

“Teman saya juga pernah menjadi korban R, seperti yang saya alami sekarang. Namun teman saya tersebut tidak jadi melayani atau membayar tebusan. Dia hanya memberikan jaminan KTP asli”, ungkap korban MW.

MW menjelaskan, awal mulanya tak terpikir bahwa R memiliki rencana akan mengancam dengan memeras atau meminta dirinya melayani dua pria yang tak dikenalnya.

“Kejadian di perumahan wilayah Kecamatan Tikung, R saat itu menarik dan melepas baju dan merekam video, dimana saya dalam kondisi hampir telanjang”, ungkap MW.

Kemudian, dia menyampaikan, kalau tidak mau melayani dua pria atau membayar tebusan uang maka video akan disebarkan oleh mandornya.

“Jadi secara terpaksa saya harus membayar uang tebusan sebesar Rp. 1 juta dari pada melayani dua pria. Harapan saya, aduan tersebut segera diproses sesuai dengan hukum yang berlaku di Negara Republik Indonesia (NKRI), sehingga R bisa menerima jerat hukum yang setimpal”, pungkasnya. (huda).

Bagikan melalui :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •   
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan