Selain Gizi Buruk Marasmus, Alfira Juga Alami Skala Sepsis

dr. Aty Firsiyanti salah satu dokter spesial anak yang menangani Meilani Alfira Damayanti, Selasa (14/01)

LAMONGAN, kilasmetro.com – dr Aty Firsiyanti salah satu dokter spesial anak di RSUD Dr Soegiri Lamongan menegaskan bahwa Meilani Alfira Damayanti (2) anak dari Dwi Novita (28) warga Desa Latukan, Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan yang sudah tiga hari dirawat di RSUD Dr Soegiri Lamongan karena mengalami gizi buruk dengan skala sepsis.

dr. Aty Firsiyanti menjelaskan, bahwa Alfi masuk ke rumah sakit itu sudah dengan kondisi panas lama dan hasil darahnya juga menunjukkan infeksi sangat tinggi yakni, leukosit dan trombosit tinggi. Selain itu infeksi yang disebabkan bakteri sudah menyebar keseluruh tubuhnya dengan sebutan Skala Sepsis.

“Alfira selain gizi buruk juga mengalami Skala Sepsis. Dan itu yang kita obati juga. Misalkan gizi buruk saja yang tanpa penyakit penyertanya juga sulit apalagi ini disertai dengan penyakit penyerta”, ungkap dr. Aty Firsiyanti kepada sejumlah awak media di ruang rawat inap Anggrek RSUD Dr Soegiri Lamongan, Selasa (14/01).

Dia juga menyatakan, bahwa Alfira merupakan penderita gizi buruk tipe marasmus, dengan kondisi kurus lemak kulitnya tipis seperti orang tua. “Penderita gizi buruk terdapat dua tipe, yang pertama marasmus yakni  kekurangan energi kalori dan karbohidrat dan penangangannya harus komprehensif. Alfira masuk dalam kategori gizi buruk marasmus”, terangnya.

Sedangkan tipe kedua yakni kwashiorkor, dia menyampaikan, ciri khasnya malah tidak tampak kurus tapi gemuk dan bengkak dan biasanya anaknya pucet rambutnya juga tipis dan mudah dicabut

Tak hanya itu, dr Aty panggilan akrab dr. Aty Firsiyanti menjelaskan, terdapat tiga langkah komprehensif dalam menangani Alfira, pertama yakni menangani gizinya, kemudian mencari penyebabnya. “Untuk yang ketiga menindaklanjuti apa yang menjadi penyebabnya”, jelasnya.

Pemberian nutrisi kepada Alfi tidak mudah karena begitu dimasukkan susu dengan kalori tinggi, Alfi juga belum bisa menerima jadi muntah. Sehingga kemungkinan ada alergi awalnya. “Kita berikan susu yang dasarnya adalah soya. Sementara diberikan susu soya dulu pelan-pelan. Kalau kondisi ususnya sudah baik itu akan bisa menerima biasanya begitu dan pemberian susunya juga ndak langsung bisa banyak kita sesuaikan dengan kondisi lambungnya”, pungkasnya (huda).  

Bagikan melalui :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •   
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan