Begal Payudara Dan Pedofilia Meringkuk Dijeruji Besi

MK, tersangka tindak kejahatan pencabulan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.

LAMONGAN, kilasmetro.com – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Lamongan bersama Polsek jajarannya berhasil mengamankan tersangka MK (37), warga Desa Banjaran, Kecamatan Baureno, Bojonegoro diduga melakukan tindak pidana kejahatan meremas-remas payudara perempuan dalam bis.

“Pencabulan terhadap RA (19) warga Desa Kedungpengaron, Kecamatan Modo ini terjadi pada Rabu (15/01) kemarin. Dimana RA naik bis Dali Prima dari Terminal Bungurasih jurusan Surabaya – Babat Lamongan. Kemudian juga MK naik di bis yang sama dengan jurusan Surabaya – Bojonegoro”, ungkap Kapolres Lamongan AKBP Harun kepada sejumlah awak media saat press release, Jumat (17/01).

Kemudian RA, Kapolres Lamongan menjelaskan, duduk tiga kursi bersama tersangka MK dan salah satu lagi perempuan yang tidak diketahui identitasnya. Di saat itulah tersangka melakukan aksi menggerayangi korban RA beberapa kali.  

“Karena merasa dilecehkan oleh tersangkan, korban berontak pada terakhirnya dilakukan apa tindakan upaya kekerasan peremasan terhadap payudara korban. Sontak korban langsung menghubungi keluarganya, agar melaporkan kejadian tersebut ke Polsek terdekat”, terangnya.

Dan akhirnya aksi begal payudara tersebut, kata AKBP Harun menambahkan, dapat diamankan saat sesampai di pemberhentikan bis di wilayah Babat. Karena petugas sudah menanti kedatangan mereka di tempat pemberhentian karena laporan dari keluarga korban.

“Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, MK kita dijerat pasal 289 KUHP  tentang tindak pidana pencabulan dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara”, imbuhnya.

Selain itu, pihak Polres Lamongan juga mengamankan tersangka SAR (41), warga Kecamatan Ngimbang Lamongan karena diduga melakukan tindak kejahatan persetubuhan terhadap anak dibawah umur (pedofilia) hingga hamil 4 (empat) bulan.

SAR pelaku tindak kejahatan persetubuhan anak

“Diduga kelakuan bejat tersebut dilakukan oleh SAR terhadap MU (15) bukan tetangganya selama 4 kali mulai dari bulan Agustus sampai akhir bulan Oktober 2019. Karena perbuatan SAR, korban MU akhirnya mengandung empat bulan”, paparnya.

Dari pengakuan SAR, Harun menjelaskan, awalnya MU melihat TV dari luar kemudian oleh SAR langsung saya tarik kedalam kamar. “Atas perbuatannya tersebut SAR kita jerat pasal 81 ayat (1) dan (2) dan atau pasal 82 ayat (1) UU RI No.35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara dan maksimal 15 tahun penjara”, pungkas perwira polisi dengan pangkat melati dua di pundaknya (huda).

Bagikan melalui :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •   
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan