Tito Karnavian Mampu Memimpin Dengan Tiga Kecerdasan

Alumni dari ESQ 165 Ary Ginanjar Agustian memuji Mendagri karena mampu memimpin dengan tiga kecerdasan.

JAKARTA, kilasmetro.com – Trainner penerapan materi kecerdasan, Ary Ginanjar Agustian memuji Menteri Dalam Negeri Prof. H.M. Tito Karnavian,Ph.D karena memiliki kematangan emosional dan komunikasi yang gacor. Selain itu mantan Kapolri tersebut juga memiliki pola keislaman yang baik dalam penanganan demo, shalat berjamaah di jalan bahkan berzikir asmaul husna.

Alumni dari ESQ 165 Ary Ginanjar Agustian, Jumat (17/01) kemarin kebetulan sedang dekat istana dan iseng pilih Sholat Jumat disalah satu Institusi Nasional. Dirinya datang agak belakangan sehingga dipastikan Imamnya tak terlihat olehnya.

“Dalam benaknya suara Imam Sholat Jumat tak asing baginya. Kemudian usai menjalani Sholat Jumat dilanjutkan dzikir, semakin penasaran karena sejak awal saya menduga itu suara Bapak Tito Karnavian. Dan merinding rasanya baru pertama kali menyaksikan Menteri langsung mengimami Shalat”, ungkap Ary Ginanjar Agustian tertegun.

Ary Ginanjar Agustian serius merasa terkesan, selaku Pemantau Birokrasi, keluar masuk dibanyak Kementerian, numpang Shalat dari satu gedung ke gedung lain sudah jadi langganan. Tapi  di hari tersebut ada satu penilaian yang spesial darinya kepada sosok mantan Kapolri Prof. H.M. Tito Karnavian,Ph.D.

“Saya adalah Alumni dari ESQ 165 Ary Ginanjar Agustian. Selain itu saya juga seorang trainer yang mendalami penerapan materi tersebut. Dimana kecerdasan manusia terbagi menjadi 3. Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), dan Spiritual Quotient (SQ). Pertanyaanya, berapa banyak pemimpin yang memiliki kemapanan kecerdasan di ketiga bidang tersebut ? “, terangnya masih terheran.

Karena menurutnya, IQ itu dijadikan tolak ukur utama sejak tahun 1890 hasil penemuan Francis Galton. Sejak 1987 Keith Basley menyatakan EQ lebih penting dari IQ. Barulah pada 1997 Danah Zohar menemukan pelengkap landasan kecerdasan yaitu SQ – Spiritual Quotient.

Sambil memakai Alumni dari ESQ 165 tersebut termenung, mendadak dia berpikir menganalisa sosok Tito Karnavian. “Secara IQ, dia tidak dibilang kurang. Selain seorang Profesor, dimana track recordnya menjadi penguji serta Doktoral sudah dijalaninya. Saya juga pernah mengupas habis sosok Irjend Boy Rafi Ahmad serta dengan pembahasan yang detail dan sangat ilmiah. Namun sosok Tito Karnavian seorang mantan Kapolri, Jenderal yang Professor, dua puncak paripurna diraih. Dan hatricknya beliau jadi Menteri pula”, paparnya.

Menoleh dari perjalanan karir sosok Tito Karnavian jadi Kapolri, dia menjelaskan, telah meloncati 5 angkatannya di Akpol. Kapolri sebelumnya angkatan 1982, sedangkan beliau angkatan 1987. “Ada banyak Jendral bintang 3 yang sudah lebih lama dan matang. Seniornya di Akpol, yang dulu membina dia, menyuruh push up, dan lain-lain. Kemudian saat berada dibawah komandonya. Kalau bukan orang yang cakap dengan mentalitas dan matang emosionalnya semua itu takkan bisa”, ucapnya.

Ary menyatakan, empat tahun yang lalu dirinya sempat meragukan bahwa seorang Tito Karnavian bisa mengelola dinamika senioritas yang memerlukan seni tinggi. Ternyata dengan EQ test passed, dirinya mulus menjalani sebagai Kapolri. “Bahkan saat dia menjabat sebagai Kapolri masih sisa 2 tahun, sudah mendapatkan amanah baru oleh Presiden Jokowi. Dalam semalam statusnya berganti jadi sipil 100%, yakni menjadi Mendagri. Tanpa memiliki bekal kematangan emosional dan komunikasi yang gacor (red_lancar) tak mungkin bisa memimpin orang yang lebih senior. Pak Tito Lulus”, tegasnya.

Menurutnya, spiritual akan menjadi satu tantangan besar. Karena ada orang cerdas, baik, tapi kehidupannya jauh dari beragama, kalaupun ada hanya sesekali ritual belaka, work hard play hard. Hidup untuk senang-senang. Professional, tapi imannya kosong.

Diceritakannya, bahwa istri Pak Tito juga berjilbab yang merupakan warisan Jilbab Polwan era Kapolri Bahrudin Haiti diteruskannya dan tidak dicabut. Hak berhijab dipenuhi. Padahal dulu mantan Kepala BNPT tersebut, yang sering dituduh ini itu, tapi dia kayaknya sabar saja. Lurus untuk menjalankan tugas. “Saya yakin mereka yang sering main ke Trunojoyo, akan sering lihat di Masjid Mabes Polri rajin sekali pengajian. Indah sekali suasana sejuk Masjid disana”, imbuhnya.

Mahfud MD, Menko Polhukam dalam tulisannya di Kompas  “Tidak ada Islamophobia di Indonesia.” Memuji Polri di era Kapolri Tito Karnavian, memiliki pola keislaman yang baik. Polisi dalam penanganan demo, shalat berjamaah di jalan bahkan berzikir asmaul husna. Santunan Yatim di kediamannya  sering di lakukan bahkan pernah sisaksikan langsung Mahfud MD saat itu. Baca tulisanya hati jadi tenang.

“Baru-baru ini ramai di media, beredar video Mendagri mendapat penghargaan dari Presiden Singapura. Saya yang menontonnya saja tertegun, karena Pakaian Dinas Upacara (PDU) Pejabat Indonesia bisa sampai ke Negeri Singa dengan perghargaan tertinggi Negara, jika bukan karena high achivement yang dia ukir, apa sampai itu PDU ke Negeri tersebut”, kembali tak henti-hentinya memuji.

Kemudian Ary berusaha flasbak kejadian 2 tahun lalu, saat dirinya melakukan penyuluhan ke 200 sekolah se-Sumsel. Salah satu sekolah yang ia singgahi SMAN 2 Palembang. “Saya baru tahu kalau Pak Tito sekolah disana. Ada fotonya waktu masih siswa sempat lihat. Guru-guru kalau cerita tentangnya semangat sekali, seperti ada taburan bangga yang ingin dibagi. Inspirasi, satu orang Tito Karnavian menjadi gemilang, membuat jutaan lain anak Palembang dibelakang punya harapan masa depan yang tinggi ditanam. Optimisme itu tumbuh karena perintis yang lahir”, lanjut diceritakan sembari mengingat memorinya dua tahun lalu.

Dalam pengakuannya, lama-kelamaan dirinya merasa bengong sendiri. “Kok saya jadi merasa semangat hidup lagi ya. Tito Karnavian saja bisa jadi Mendagri. Kita juga bisa jadi Pemimpin! Mimpi saja dulu, karena gratis. Tapi tekuni semua yang dilakukan. Ir.Soekarno pernah berkata, “Bermimpilah setinggi langit, jangan takut jatuh. Karena jika engkau  jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang” Bersiap – siap, jadi Tito Karnavian selanjutnya”, pungkasnya.

Create by : Varhan Abdul Aziz, Sekretaris Eksekutif IBSW (Indonesian Bureaucracy and Service Watch)

Publish : Moch. Nuril Huda

Bagikan melalui :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •   
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan