KOMNAS PA Apresiasi Kerja Cepat dan Profesional Direskrimum Polda Jawa Timur Ungkap Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak

kilasmetro.com, SURABAYA – Ketua Umum Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengapresiasi kerja cepat dan profesional Direskrimum Polda Jawa Timur dan jajarannya yang telah menangkap dan menetapkan seorang pendeta inisial HL (50) yang patut diduga  melakukan tindak kekerasan seksual terhadap anak.

“Kerja cepat dan professional Direskrimum Polda Jawa Timur dan jajarannya berhasil mengungkap kasus kekerasan seksual terhadap anak di wilayahnya patut mendapatkan apresiasi. Sehingga pendeta dengan inisial HL akan terancam maksimal pidana penjara 20 tahun, karena bersesuaian dengan UU RI Nomor : 17 Tahun 2016 tentang penerapan Perpu No. 01 Tahun 2016 tentang perubahan UUU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak junto UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan kedua atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak“, demikian disampaikan Arist Merdeka Sirait kepada awak media Polda, Sabtu (07/03).  

Atas bukti-bukti yang cukup yang diperoleh Polda Jawa Timur, Arist Merdeka Sirait kepada sejumlah media di Surabaya mengatakan sangat mendukung upaya dan langkah  penegakan hukum  yang dilakukan Direskrimum Polda Jawa Timur. Sangat dipastikan Polda JawaTimur akan bertindak profesioal dan sangat menduku ng sikap Direskrimum dan jajaran penyidikya tidak ada kata “Damai” atas segala bentuk kekerasan seksual terhadap anak termasuk yang diduga dilakukan  sang pendeta Cabul itu.

“Peristiwa kejahatan seksual dilakukan pendeta HL sudah 17 tahun berjalan saat korban berusia 10 tahun. Perbuatan bejat itu dilakukannya di lingkungan gereja dan di rumah terduga pelaku yang juga masih dilingkungan gereja. Padahal korban sesungguhnya sudah dianggap menjadi anak rohani oleh sang pendeta cabul tersebut sejak usia anak”, papar Arist.

Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait bersama Direskrimum POLDA JAWA TIMUR Kombes Pitra Andrian Ratulangi di ruang kerjanya.

Perasaan geram bercampur marah, sambung Arist, menjadikan HL terpaksa dilaporkan ke Polda Jawa Timur, karena orang tua korban adalah jemaat  penyumbang terbesar operasional pelayanan gereja.

“Demi kepentingan terbaik  dan keadilan bagi korban, Komnas Perlindungan Anak Indonesia bersama Komnas Anak  kantor perwakilan Jawa Timur segera membentuk Tim Advokasi dan Rehabilitasi Sosial Anak guna mengawal proses Hukum dan memberikan dampingan pemulihan psikologis korban dan Rehabilitasi sosial korban”, demikian Arist mengakhiri penjelasannya. (red).

Bagikan melalui :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •   
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan