Tayangan Film Chucky Dan Slender Man, Komnas Perlindungan Anak : Diduga Menjadi Inspirasi Remaja Bunuh Anak Secara Sadis

Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Indonesia, Arist Merdeka Sirait.

kilasmetro.com, SURABAYA – Komisi Nasional Perlindungan Anak Indoensia menyampaikan, bahwa tersangka seorang remaja berinisal, NF (15) di Sawah Besar Jakarta Pusat yang tega membunuh APA (5) secara sadis beberapa waktu yang lalu, dapat diduga bahwa tindakannya tersebut adalah dampak dari ketergantugan tersangka terhadap gaway, media sosial dan game online yang mengandung kekerasan seperti film Chucky dan Slender Man serta tayangan-tayangan lainnya.

Diketahui bersama, bahwa tersangka NF (15) membunuh APA (5) karena terinsipirasi dari film pembunuhan. APA dibunuh di rumah NF di daerah Sawah Besar, Jakarta Pusat, Kamis (05/03) lalu.

APA diduga dibunuh NF saat berkunjung ke rumah NF. Setelah terbunuh, jenazah APA kemudian disembunyikan di dalam lemari oleh NF. Keesokan harinya, tersangka beraktivitas seperti biasa. Saat perjalanan menuju sekolah, tersangka memilih berganti pakaian dan menyerahkan diri ke kantor polisi.

“Dari cara-cara dan tindakan sadistis yang dilakukan tersangka terhadap korban adalah pertanda atau bukti yang telah menunjukkan bahwa tindakannya merupakan  dampak dari gangguan kesehatan mental dan jiwa tersangka karena ketergantungan pada gaway, tayangan media sosial, tayangan-tayangan film dan game online yang mengandung kekerasan”, kata Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Indonesia, Arist Merdeka Sirait kepada awak media, Minggu (08/03).

Arist menjelaskan, kondisi tersebut yang mendorong tersangka melakukan tindakan sadistisnya. Dan secara psikologis tersangka merasa terpuaskan dengan tindakannya dan tidak merasa bersalah, tidak ada takut dan menyesal. “Selain itu ada pemicu lain yang menjadikan NF memiliki perilaku sadistis, yakni pengaruh kuat lingkungan social rumah yang tidak nyaman dan terbebas dari situasi kekerasan. Bisa juga karena anak berada dalam situasi keluarga “broken home” dan selalu melihat dan merasakan tindak kekerasan”, ujarnya.

Pada umumnya, sambung Arist, ciri-ciri dari anak terganggu mental dan jiwa anak seperti NF, itu akibat ketergantungan gadget dan tayangan-tayangan yang kontennya mengandung kekerasan. Dapat dilihat yang sebelumnya mempunyai sifat periang gembira berubah menjadi pendiam, menyendiri, keluar dari lingkungan dan pergaulan sosial anak, gelisa, cemas,  menjauhkan  diri dari lingkungan sosialnya, suka menyendiri dan asyik dengan dirinya sendiri.

“Dari tontonan maupun tayangan-tayangan kekerasan yang sering dikonsumsi tersangka tersebut mampu memicu atau triger anak melakukan tindak pidana diluar kebiasaan dan tumbuh kembang anak sebagai remaja. Itu berarti tumbuhnya perilaku sadistis dan tidak berprikemanusiaan itu juga harus dilihat secara baik bahwa ada  kontribusi orang terdekat dan lingkungan sosial anak yang mempengaruhinya”, jelasnya.

Tak hanya itu, lanjut Arist, dampak lain akan dapat dilihat anak bisa menjadi  “psikopat” dimulai dengan munculnya kebiasaan menyakiti bahkan membunuh binatang-binatang kecil yang ada disekitarnya seperti  cicak, kecoak lalu meningkat menyakiti dan membunuh binatang seperti burung,  kucing,  ayam dan bahkan  binatang peliharaan lainnya, bahkan menyakiti diri sendiri seperti melakukan percobaan bunuh diri. “Bahkan lebih mengerikan lagi, tersangka selalu mencatat korbannya bahkan menggambarkan rencana  dan tindakannya dalam bentuk gambar  karikatur bahkan lukisan media lainnya. Jadi apa yang dilakukan NF terhadap APA  sudah dapat dikategorikan mengarah pada ciri-ciri tersebut”, terang Ketua Komnas Perlindungan Anak Indonesia menyimpulkan.

Lebih lanjut, Arist menambahkan, sesungguhnya peristiwa serupa pernah terjadi 5 (lima) tahun yang lalu  di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), dimana ada seorang anak berusia 11 tahun menggorok leher teman sebayanya dengan sajam tumpul. Perbuatannya muncul diduga karena terinprirasi dari kebiasaan anak setiap hari menonton film kriminal yang ditayangkan FOX Crime dari salah satu  TV Jaringan berlangganan.

“Pada saat itu, tersangka ditemui Tim Komnas Perlindungan Anak di rumah rehabilitasi dan pemulihan di Lombok, Mataram  si anak yang besar di lingkungan keluarga terdidik tidak menunjukkan prilaku sadisme, sepertinya anak-anak baik yang tidak mungkin melakukan sedadis itu”, paparnya.

Dengan peristiwa ini, tentu Komnas Perlindungan anak yang diberikan tugas membela dan melindungi anak di Indonesia segera berkoordinasi dengan Polres setempat guna melakukan asesmen terhadap tersangka guna mendapat layanan dari psikolog klinis. “Selain itu Komnas Perlindungan Anak dalam kesempatan ini juga menyampaikan turut berduka sedalam-dalamnya terhadap keluarga korban”, imbuhnya.

Wakapolres Metro Jakarta Pusat AKBP Susatyo Purnomo memberikan keterangan pers di Mapolres Jakarta.

Tak hanya itu saja, Arist mengajak, semua masyarakat untuk menggunakan momentum ini untuk dijadikan ajang refleksi keluarga Indonesia sudah sejauh mana perhatiannya kepada perkembangan psikologis anak khusus anak remaja milenial.  “Semua komponen bangsa, orangtua, masyarakat, pemerintah dan negara mari bersama bahu-membahu mengkampanyekan stop penggunaan gaway, game online media sosial yang mengandung kekerasan dan kebencian seperti film Chucky dan Slender Man serta tayangan-tayangan lainnya”, pungkasnya. (red)

Bagikan melalui :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •   
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan