Gubuk Sekelas Kandang Sapi Jadi Hunian Mbak Siti Dan Tiga Bulan Stiker Menempel, Kapan Bantuan Datang ?

Siti Maimunah warga yang menghuni di gubuk sebelah kandang dan pembuangan kotoran sapi.

kilasmetro.com, LAMONGAN – Mendapatkan hidup sejahtera lahir batin, bertempat tinggal di lingkungan yang baik dan sehat serta memperoleh pelayanan kesehatan merupakan hak setiap warga Negara Indonesia sesuai UUD 1945.

Namun hak tersebut, hampir tak sepenuhnya diperoleh Siti Maimunah (35), karena terpaksa menempati gubuk diatas pekarangan warga Dusun Semampir, Desa Sidomulyo, Kecamatan Modo, Lamongan.

“Diluar kata layak maupun sejahtera itu menggambarkan kondisi Mbak Siti panggilan Siti Maimunah. Karena gubuk (red_tak layak disebut rumah) yang ditempatinya selama puluhan tahun itu terletak dibelakang kandang sapi”, kata Anas Tohir, salah satu pemuda warga setempat, Senin (09/03).

Dengan ditemani nyamuk, Anas menjelaskan, Mbak Siti setiap malam gubuknya hanya diberikan penerangan lilin. Lebih parah lagi diabetes militus (red_sakit kencing manis) juga diderita wanita yang tak memiliki KTP tersebut sehingga kondisinya semakin memprihatinkan.

“Selama ini belum ada tindakan atau upaya nyata yang dilakukan oleh pihak pemerintah daerah maupun pemerintah desa setempat untuk meringankan beban hidup kecuali penempelan stiker dengan tulisan “Keluarga Miskin Penerima Bantuan Sosial”. Mbak Siti sangat berharap ada bantuan nyata dari pihak manapun untuk memperoleh kelayakan hidup”, ujar Anas.

Sementara, Panit Lantas Polsek Babat Aipda Purnomo, membenarkan bahwa terdapat warga yang bernama Siti Maimunah menempati gubuk bersebelahan dengan kandang sapi dan tempat pembuangan kotoran sapi di pekarangan warga Dusun Semampir, Desa Sidomulyo, Kecamatan Modo, Lamongan mengalami kondisi yang sangat jauh dari kata layak atau sedikit kurang normal.

“Mbak Siti hidup didalam gubuk seperti itu seolah lebih berharga sapi disbanding dirinya. Jika hujan, kondisi luar biasa dialami Mbak Siti, yakni nyamuk dan bau kotoran sapi yang membandel akan menemaninya sampai pagi serta penerangannya hanya lilin”, kata Aipda Purnomo usai mengunjungi Siti Maimunah dimalam hari saat turun hujan.  

Pak Pur panggilan Aipda Purnomo menjelaskan, kondisi yang dialami itu sudah puluhan tahun selain kondisi ekonomi keluarga juga kurang mampu. Dan dia menempati gubuk berukuran 2×3 meter tersebut di pekarangan milik Pak Mustajab yang merupakan saudara orang tuanya.

Muntalib bersama istri saat menerima kunjungan dari Aipda Purnomo pada malam hari.

“Mbak Siti memang layak untuk mendapat bantuan baik dari pihak pemerintah daerah maupun desa. Namun bantuan tak kunjung ada hanya sebuah stiker dengan tulisan Keluarga Miskin Penerima Bantuan Sosial yang telah menempel sejak tiga bulan yang lalu”, ungkap Ketua Harian Yayasan Berkas Bersinar Abadi sesuai pengakuan Muntolib selaku kakak kandung Mbak Siti.

Dia berharap nantinya Mbak Siti segera mendapatkan bantuan secara nyata dari pemerintah. “Dan kami bersama teman-teman anggota Yayasan Berkas Bersinar Abadi serta donator akan berusaha untuk membangkitkan senyum Mbak Siti dengan mewujudkan rumah kecil layak huni. Namun sebelumnya akan kami carikan lokasinya terlebih dahulu. Semoga hal ini bisa terkabulkan”, pungkasnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, sampai Maret 2019 angka kemiskinan di Jatim masih di angka 4,112 juta jiwa atau 10,37 persen dari total jumlah penduduk. Sedangkan angka kemiskinan di Kabupaten Lamongan menurut BPS per April 2019 masih pada angka 13,8 persen. Jika kondisi yang dialami oleh Siti Maimunah sejak puluhan tahun berarti dirinya termasuk ada didalam prosentase tersebut. (huda).

Bagikan melalui :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •   
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan