Karena Ada Askes Yang Ditutup, Warga Kayukebek Lampiaskan Kemarahan

Warga Desa Kayukebek, Kecamatan Tutur lampiaskan kemarahan dengan membuang sampah di depan kantor Camat Tutur Kabupaten Pasuruan, Jumat (03/04).

KILASMETRO|PASURUAN –  Kemarahan warga  Desa Kayubebek, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan sudah tidak bisa dibendung lagi. Pasalnya akses jalan menuju TPS yang berada dilahan perhutani ditutup dan tidak ada solusi pengalihan TPS. Sehingga warga akhirnya melampiaskan kemarahan dengan membuang sampah di depan kantor Kecamatan Tutur, Jumat (03/04/2020).

Tak hanya jalanan, aksi kemarahan dengan buang sampah ini ditunjukkan warga Desa Kayukebek lantaran jalan utama menuju permukiman tertutup sampah. Sampah dalam sak yang sebelumnya diusung dengan beberapa pickup itupun dibiarkan menumpuk dan mengotori halaman kantor camat yang berada tak jauh dari Pasar Nongkojajar tersebut.

Sejumlah sumber mengungkapkan, sampah organik/anorganik diperkirakan berasal dari pasar itu sebelumnya menumpuk di pinggir jalan, namun kemudian meluber hingga mengganggu warga dan pengguna jalan.

Selain bikin risih, menurut sejumlah warga, sampah-sampah itu bisa saja mengancam kesehatan. Karenanya warga marah dan meminta segera ada penyelesaian. “Lebih-lebih sekarang ini kan ada wabah corona”, kata seorang warga saat ditemui awak media saat di lokasi tempat pembuangan sampah tersebut. Dan menjelaskan bahwa sampah memang berada di jalur utama menuju Desa Kayukebek, berjarak sekitar 500 meter dari Pasar Nongkojajar.

Camat Tutur Achmad Hadi mengatakan, kemarahan warga ini terjadi karena kesalahpahaman dan dirinya memastikan amukan warga sepenuhnya tidak ditujukan kepada pihak kecamatan, walaupun halaman kantor beberapa saat dipenuhi sampah.

“Tapi memang kan ndak bisa langsung, karena butuh proses. Karena problem sampah ini sebenarnya sudah terdapat upaya penyelesaian. Jadi kami harap warga memiliki kesabaran”, himbau Hadi.

Diungkapkan oleh Hadi, perkara sampah ini sudah menjadi perhatiannya, semenjak Perhutani menutup lokasi yang selama ini digunakan untuk membuang sampah pasar maupun rumah tangga.

Tempat pembuangan sampah yang ditutup pada 09 Maret  tersebut berupa jurang, diakui termasuk dalam wilayah kewenangan Perhutani. “Jadi selama berpuluh-puluh tahun, memang tidak mempunyai tempat pembuangan sampah”, imbuhnya.

Lebih lanjut, Hadi menambahkan, untuk sesaat larangan membuang sampah tanpa dibarengi dengan solusi. Tapi, upaya dialog bersama dengan warga, pihak berwenang hingga berbagai pihak terkait, langsung dilakukan saat itu juga.

Salah satu penyelesaian waktu itu adalah mengerahkan truk angkut sampah, sambil menunggu keputusan lokasi pembuangan lain. Sejumlah titik lokasi untuk membuang sampah juga telah dipersiapkan. “Namun pemilihan tempat pembuangan sampah tidak bisa serta merta dapat diputuskan, karena harus melalui beberapa kajian dan tahapan”, tegasnya.

Aksi warga dengan membuang sampah di jalanan itu sudah dilaporkan ke Bupati. “Kami yakin persoalan tempat pembuangan sampah ini telah mendapatkan perhatian dan segera dapat diselesaikan”, tandas Camat Tutur.

Secara terpisah, Suprapto selaku Kabid Pengelolaan Sampah DLH Kabupaten Pasuruan mengakui, selama ini Pasar Nongkojajar tak memiliki lahan untuk digunakan sebagai tempat pembuangan sampah. “Memang tidak punya tanah kas desa. Jadi selama ini memang tidak punya TPS”, terang Suprapto.

Menanggapi polemik dan amukan warga Kayukebek, diungkapkan oleh Suprapto sebenarnya sudah ada solusi, selaras dengan yang diucapkan Camat Tutur. “Cuma ndak tahu kok tiba-tiba ada aksi begitu’, ujar Suprapto bernada sesal.

Menyikapi aksi warga, DLH mencoba tanggap dengan mengirimkan truk sampah untuk digunakan sebagai tempat buang sampah. “Tapi hari ini tadi DLH sudah kirim dua unit truk untuk dijadikan TPS sementara. Jadi nanti langsung bisa dikirim ke TPA”, akunya.

Sekadar diketahui, kondisi jalanan di seputar pasar Nongkojajar maupun depan kantor camat, pada sore hari sudah terlihat bersih, tak terlihat berceceran. Sementara, berkenaan dengan solusi seperti diungkapkan oleh camat maupun pihak DLH, sampai saat ini belum didapatkan penjelasan. (wan / ko).

Bagikan melalui :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •   
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan