Pasar Lamongan Belum Mampu Menampung Cabe Merah Dengan Harga Bersaing Dan Jumlah Besar

Camat Kembangbahu Arifin bersama jajaran forkopimcam sedang panen raya cabe merah besar.

KILASMETRO|LAMONGAN –  Petani cabe merah besar Desa Kembangbahu, Kecamatan Kembangbahu masih mengalami kesulitan pemasaran di Lamongan. Sehingga mau tidak mau memasarkan hasil panennya tersebut harus ke luar kota.  

Hal ini disampaikan Camat Kembangbahu Arifin saat panen raya cabe, bahwa Pasar Lamongan belum mampu menerima hasil panen dengan jumlah lebih dari 1 kwintal (100 kg). Terpaksa mereka langsung menjualnya ke Surabaya.  

“Cabe ini, sekali panen bisa mencapai 6 kwintal. Selain harga tidak berani bersaing, di Pasar Lamongan hanya mampu membeli maksimal 1 kwintal. Jadi mereka  terpaksa menjualnya di Surabaya, bahkan sampai dengan ke Jakarta”, kata Arifin kepada awak media, Kamis (16/04).

Dengan harga perkilo Rp. 17 ribu, lanjut Arifin, hasil pertanian cabe merah besar ini bakal menjadi pesaing komoditi lain yang ada di wilayah Kecamatan Kembangbahu. “Untuk sementara, di Kembangbahu mayoritas dengan kondisi lahan seperti itu hanya cabe merah besar dan kangkung. Namun karena kangkung terkendala hama tikus jadi mereka beralih ke cabe”, ujarnya.

Kita janji, sambung Camat Kembangbahu, untuk bantuan pupuk akan diusulkan kepada Dinas Tananman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Lamongan untuk meringankan biaya perawatan. “Ya, mereka akan kita bantu dengan mengusulkan proposal kepada Dinas melalui UPT Kembangbahu”, jelasnya.

“Selain cabe, di Kembangbahu juga ada tanaman terkait obat-obatan yakni  Desa Sukosongo dan Moronyamplung seperti jahe merah, kencur dan sebagainya”, imbuhnya.

Sementara, Sulis salah satu petani, merasa berat proses perawatan cabe merah besar, karena mahalnya obat-obatan dan pupuknya. “Yang paling berat dan mahal itu obat-obatannya, karena harus dua kali sehari sampai panen. Kalau pupuk cuma dasaran terus kocornya dua kali udah cukup untuk 2 hektar. Jadi biaya keseluruhan mulai pengelolaan lahan hingga panen biayanya sekitar Rp. 350 juta”, terang Sulis.   

Selain itu, sambung Sulis, dirinya merasa kesulitan setiap kali panen karena harus memasarkan cabenya ke Surabaya. “Tiga hari sekali, saya bisa memetik cabe merah besar ini 6-7 kwintal dan mengirimnya ke Surabaya. Karena pasar Lamongan hanya mampu membeli 1 kwintal”, tuturnya.

Petani yang juga menjabat sebagai perangkat desa di Desa Kembangbahu tersebut mengaku awalnya bisa menanam cabe merah besar tersebut dari berikan pembinaan dan pelatihan dari teman.

“Awalnya belajar dari teman. Namun karena pangsa pasar adanya di Surabaya, maka sebelum bertanam cabe tersebut saya harus memiliki mobil. Karena sewa mobil untuk mengirim cabe tersebut cukup besar biaya operasionalnya dibanding milik sendiri”, tandasnya. (tris/koko).  

Bagikan melalui :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •   
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan