Jika Ada Yang Ganggu Pembangunan RS Darurat Covid-19, Pemuda Pancasila Lamongan Siap Pasang Badan

Pemuda Pancasila Lamongan saat berada di sekitar lokasi pembangunan RS Darurat Covid-19.

KILASMETRO|LAMONGAN – Relawan Pemuda Pancasila (PP) Kabupaten Lamongan siap pasang badan untuk mengawal dan mengamankan keberlangsungan proyek pembangunan Rumah Sakit Darurat Covid-19 di Lamongan.

“Jika ada yang menganggu tentu akan kita cegah, dan kita berharap tidak ada yang nekat mengganggu. Karena pembangunan diharapkan cepat selesai”, kata Ketua MPC Pemuda Pancasila Lamongan, Andre Wicaksono, kepada awak media, Jum’at (01/05)

Menurutnya, kerelaan para Pemuda Pancasila untuk turun lapangan mengawal keberlangsungan pembangunan rumah sakit tempat isolasi penanganan pasien Covid-19 di Lamongan adalah semata-mata demi kemanusian.

“Mengingat jumlah pasien terkonfirmasi positif dari hari ke hari terus bertambah, sedangkan ruang perawatan khusus Covid-19 di RSUD dr Soegiri sangat terbatas,” terangnya.

Hingga hari ini, Kamis (30/4), berdasarkan data Covid-19 Center Lamongan (CCL) terdapat 42 orang terkonfirmasi positif Covid-19, 5 pasien diantaranya dinyatakan sembuh, sedangkan 6 pasien meninggal dunia.

“Ini situasi darurat dan masyarakat sangat membutuhkan”, tegasnya.

Sebelumnya, LSM Jamal beserta sebagian warga Kelurahan Tumenggungan menolak pembangunan rumah sakit darurat pasien Covid-19 oleh Pemkab Lamongan, lantaran warga merasa merasa tak ada sosialisasi sekaligus ketakutan

“Kami bersama warga Kelurahan Tumenggungan menolak dibangunnya rumah sakit covid-19. Karena sampai hari ini kita tidak pernah mendapat sosialisasi baik di tingkat Kelurahan, Kecamatan maupun Kabupaten”, kata Ketua LSM Jamal Nur Salim kepada sejumlah awak media usai membagikan 70 paket sembako dari paguyuban makam Kelurahan Tumenggungan, Selasa (28/04) kemarin.    

Banyak masyarakat sekitar yang bertanya-tanya, sambung Nur Salim, kenapa dibangun ditengah kota. Padahal asset Pemkab Lamongan ada dimana-mana dan banyak. “Harusnya Pemkab juga juga berfikir bagaimana pengembangan kota bisa berjalan, supaya tidak mulek di dalam kota semua”, ujarnya.  

Dia juga menjelaskan, ketakutan masyarakat sekitar akan penyebaran virus corona sendiri yang menjadi salah satu alasan kuat menolaknya pendirian rumah sakit darurat penanganan covid-19 di dirikan di tengah kota.

“Intinya mayoritas warga sekitar menolak pendirian rumah sakit darurat penanganan covid-19. Selain belum ada sosialisasi juga tidak adanya skema perencanaan yang jelas dari Pemkab Lamongan”, tegasnya. (koko).

Bagikan melalui :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •   
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan