Ketua KPK : Aktualisasi Hardiknas Bagi Kehidupan Serta Masa Depan Diri dan Bangsa Indonesia

Firli Bahuri, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

KILASMETRO|JAKARTA – Hari pendidikan nasional tanggal 2 Mei 2020 adalah sebuah momentum yang seharusnya tidak diperingati sebagai seremonial belaka. Namun esensi dari perjuangan pendidikan nasional yang patut diaktualisasi dalam kehidupan sehari-hari, hal tersebut dikatakan Ketua KPK Firli Bahuri.

Ketua KPK menuturkan bahwa nilai-nilai perjuangan seorang Raden Mas Suwardi Suryaningrat dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara yang sangat gigih dan pantang menyerah, mencabut benih-benih kebodohan yang ditanamkan bangsa Belanda pada ladang pemikiran rakyat Indonesia, sehingga dapat membuka mata seluruh kaum pribumi akan pentingnya pendidikan kala itu.

“Jendela dunia mulai terbuka, seluruh perenungan dan pemikiran bangsa mulai bangkit, ternyata tak ada hukuman yang lebih menyedihkan dari terpenjara dan terbelenggu kebodohan”, ujar Firli Bahuri kepada awak media, Minggu (03/05).

“Sejarah Ki Hadjar Dewantara-lah yang memicu tekad dan semangat saya agar dapat tetap bersekolah ditengah kondisi kesulitan ekonomi keluarga saat itu. Saya ingat betul kata-kata guru yang menceritakan sejarah Ki Hadjar Dewantara, bahwasanya kebodohan adalah akar atau jurang kemiskinan”, kenangnya.

Ketua KPK berpangkat Jendral Polisi bintang tiga tersebut masih teringat masa-masa sewaktu duduk dibangku sekolah khususnya sekolah menengah pertama yang berjarak 16 KM dari rumah dan hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki.

“Pulang sekolah, saya selalu menyempatkan diri menyadap pohon karet yang hasilnya untuk membayar biaya SPP, sebelum membantu Ibu berladang. Setelah lulus SMP, saya hijrah ke Palembang melanjutkan pendidikan SMA bermodal semangat dan memulai perjuangan hidup lebih berat lagi, dimana barus bekerja serabutan untuk menyambung hidup dan membiayai pendidikan”, katanya.

Lebig lanjut, Firli Bahuri menceritakan, sepulang sekolah dirinya berjualan spidol yang dbeli seharga Rp 25/lusin di Pasar Cinde, lalu dijual kembali dengan seharga Rp 50/lusin di Taman Ria Sriwijaya Palembang. “Alhamdulillah, dalam semalam saya bisa menjual 6 lusin spidol dan bisa membawa uang Rp 150”, ujarnya.

Tak hanya itu, dia juga ikut berjualan kue hingga mencari upah dengan mencuci mobil untuk bertahan hidup dan meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. “Inilah esensi Hari Pendidikan Nasional yang saya aktualisasikan dalam kehidupan. Nilai-nilai perjuangan yang diajarkan Ki Hadjar Dewantara, semuanya benar. Melalui pendidikan, kita dapat merekuh masa depan yang lebih baik”, terangnya.

Dia menuturkan, bahwa masa depan seseorang tidak ditentukan saat dia lahir tapi semangat belajar, berjuang, bekerja keras dan tentunya semua itu atas izin Allah SWT. Tetap semangat untuk belajar dan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi. Apalagi saat ini sekolah negeri gratis dan perguruan tinggi banyak memberikan beasiswa kepada mahasiswanya yang tidak mampu atau yang berprestasi.

Ketua KPK juga menegaskan tidak ada alasan untuk tidak belajar. Apalagi mengaitkan pandemi COVID-19 saat ini sebagai alasan untuk menghentikan kegiatan belajar dan mengajar. Ingat pesan Ki Hadjar Dewantara. Setiap Orang Menjadi Guru dan Setiap Rumah Menjadi Sekolah. Belajar bisa dimana saja, kembali pada niat masing-masing.

“Pada momentum Hari Pendidikan Nasional ini, marilah kita bersyukur dan memberikan penghargaan yang setinggi tingginya kepada para guru-guru, tenaga pendidik yang telah memberikan andil yang sangat besar untuk kemajuan peradaban bangsa”, tegasnya.

Selain itu guru tidak hanya mendidik anak muridnya tetapi guru sangat menentukan terwujudnya tujuan negara indonesia yang sejahtera juga  indonesia yang cerdas.

“Dan guru pulalah yang menanamkan nilai-nilai kejujuran dan semoga melalui  pendidikan negara kita akan memiliki budaya anti korupsi sejak dini”,  pungkas Ketua KPK Firli Bahuri. (red).

Bagikan melalui :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •   
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan