Kontroversi Obat COVID-19, Dosen Farmasi Unsoed Purwokerto : Saatnya Indonesia Bangkit

Ilustrasi Obat COVID-19.

KILASMETRO.com – Seiring merebaknya pandemi COVID-19 di dunia dan di Indonesia, traffic informasi di media sosial pun semakin tinggi, informasi valid berpacu dengan informasi yang cenderung hoax berseliweran di tanah air. Termasuk informasi tentang pengobatan penyakit COVID-19 ini. Disertai dengan beberapa artikel hasil penelitian, menyebarlah himbauan, ajakan, dan larangan untuk mengkonsumsi senyawa X, tanaman Y, buah Z, dan lain-lain menambah riuh suasana media sosial.

“Pertanyaannya, semudah dan sesederhana itu kah kita dapat meng-klaim menggunakan suatu bahan hanya berdasarkan satu atau lebih artikel penelitian? Padahal proses penemuan dan pengembangan obat baru memerlukan waktu yang lama dan biaya yang tidak sedikit”, kata Dhadhang Wahyu Kurniawan, Dosen di Jurusan Farmasi Unsoed Purwokerto kepada Kantor KilasMetro.com.

Dhadhang Wahyu Kurniawan menjelaskan, bahwa beberapa studi menyatakan butuh waktu sekitar 15 tahun untuk mendapatkan suatu obat yang siap diedarkan di masyarakat sejak riset awal tentang efek terapi senyawa tersebut dilakukan. “Waktu 15 tahun bahkan lebih dengan biaya pada kisaran lebih dari 100 juta USD, itu dilakukan oleh suatu perusahaan yang benar-benar fokus dan konsisten meneliti tentang senyawa obat tersebut”, ungkapnya.

Dengan pertimbangan tersebut, dia menuturkan, suatu perusahaan farmasi akan berpikir keras untuk menentukan riset obat penyakit apa yang akan mereka lakukan supaya dapat memberikan keuntungan yang signifikan buat mereka. Perusahaan-perusahaan farmasi selalu memantau kondisi kesehatan di lapangan pada saat itu dan trend yang akan terjadi pada masa yang akan datang.

Sementara itu, dia menambahkan, trend saat ini dan beberapa tahun ke belakang, dunia disibukkan oleh meningkatnya jumlah penyakit degenerative dan metabolisme, serta penyakit kanker yang penetrasinya mengerikan ke berbagai lapisan masyakarat dengan berbagai atributnya. Hal ini berimbas pada berkurangnya jumlah riset penemuan dan pengembangan obat di bidang penyakit infeksi.

Menurutnya, investor menyadari bahwa resiko menanamkan modal di bidang penemuan dan pengembangan obat baru itu sangatlah besar dan tergolong slow return. Pada saat bersamaan, mulai terjadi boom di bidang teknologi informasidan komunikasiditandaidengan munculnya aplikasi-aplikasi software yang semakin banyak.

Booming-nya technology Industry pada pertengahan tahun 2000-an ini dengan segala valuasinya yang fantastis untuk hanya sebuah aplikasi media sosial, membuat fokus investment firm sekitar 80-90%-nya beralih di bidang ini. Sisanya didistribusikan antara engineering dan bioteknologi healthcare innovation. Investment firm yang masih bersedia investasi atau bahkan fokus investasi di bidang penemuan dan pengembangan obat baru itu jumlahnya kecil dan angka investasi mereka cenderung ekstra hati-hati”, ujar pria kelahiran Kota Soto Lamongan.

Oleh karena itu, riset untuk menemukan obat baru terutama untuk suatu pasar yang potensi dan kemungkinan peluang returnnya kecil, terutama di bidang penyakit infeksi, porsinya semakin berkurang untuk dilakukan. “Makanya, ketika kondisi pandemi virus corona ini terjadi, dunia kelimpungan dan kelabakan, karena obatnya belum ada dan semua sibuk mengeksplorasi kembali riset-riset yang sudah ada untuk menangani kondisi yang parah ini”, bebernya.  

Lantas dia menanyakan, bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Karena sejauh ini riset-riset perusahaan farmasi di Indonesia belum ada yang serius fokus pada penemuan dan pengembangan obat baru yang benar-benar berasal dari senyawa kimia baru. Perusahaan-perusahaan farmasi di Indonesia hampir semua riset dan pengembangannya terkait produk obat adalah dengan memodifikasi formula yang sudah ada.

Padahal secara sumber daya, kata Dosen Jurusan Farmasi, baik itu manusia maupun alam, tanah air tercinta ini memiliki jumlah yang sangat melimpah. Jika kita mampu mengelola sumber daya yang melimpah ini dengan baik dan maksimal, maka peluang Indonesia untuk menjadi negara besar yang disegani di dunia menjadi sangat terbuka dan dapat terealisasi.

“Hal ini terbukti bagaimana ketika VOC (perusahaan dagang Kerajaan Belanda) sewaktu mengelola kekayaan alam tanah nusantara selama 350 tahun memiliki asset kekayaan terbanyak yang tidak ada satupun perusahaan di dunia ini yang sanggup mengunggulinya hingga detik ini”, kata Dosen yang pernah tinggal di Negeri Kincir Angin itu cukup lama.

“Pandemi COVID-19 saat ini menggugah kembali mata, hati, dan memori kita betapa bangsa ini dianugerahi Yang Maha Kuasa dengan kekayaan keanekaragaman hayatinya. Beredarnya informasi-informasi viral tentang penggunaan kurkumin, jambu biji merah, echinaceae, VCO (virgin coconut oil), empon-empon, dan lain sebagainya yang didalihkan dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit COVID-19 ini seharusnya menjadi perhatian kita”, lanjutnya.  

Dia juga menjelaskan, bahwa tanaman-tanaman tersebut terbukti secara ilmiah dapat menjadi immune booster, yang memang masa-masa sekarang ini sangat diperlukan oleh kita untuk membentengi tubuh dari serbuan virus corona. Menjaga dan meningkatkan system imunitas tubuh merupakan salah satu cara ampuh untuk melawan penyakit COVID-19, sebagaimana umumnya penyakit-penyakit akibat virus lainnya yang tergolong self-limiting disease.

Sebenarnya masih banyak bahan alam yang menurutnya memiliki potensi tidak kalah bahkan mungkin lebih kuat jika dibandingkan dengan tanaman-tanaman yang sudah disebutkan di atas. Namun tanaman-tanaman tersebut belum dieksplorasi dengan baik dan maksimal, serta kajian-kajian ilmiahnya masih perlu ditingkatkan.  

“Hal ini harus menjadi perhatian kita semua, supaya bahan-bahan alam tersebut benar-benar mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia di dunia internasional. Secara sumber daya manusia pun kita mampu, mengingat negara ini sudah memiliki banyak sekali doktor-doktor lulusan luar negeri yang kemampuannya sudah banyak yang teruji dengan hasil-hasil risetnya melalui publikasi-publikasi mereka di jurnal-jurnal internasional bereputasi”, tuturnya.  

Termasuk senyawa chloroquine dan hydrochloroquine yang menjadi perbincangan dibanyak media di dunia karena aktivitasnya dalam menyembuhkan COVID-19, Dhadhang menegaskan, sejatinya bangsa ini dapat memproduksi senyawa obat tersebut secara mandiri.

“Semoga pandemi COVID-19 ini benar-benar dapat menjadi pelajaran bagi kita dan setelah pandemi ini berakhir, bangsa ini segera memulai membangun kejayaan peradabannya melalui eksplorasi dan penguatan riset dan produksi bahan-bahan alamnya menjadi produk-produk yang berkualitas internasional yang bermanfaat bagi kesehatan di tanah air dan di dunia. Hal yang tidak mudah, tetapi jika kita komitmen, fokus, dan konsisten melakukannya, impian tersebut akan menjadi kenyataan yang indah”, pungkasnya. (red).

Bagikan melalui :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •   
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan