HJL Ke-451, Gus Zakky : Generasi Milenial Jangan Lupakan Sejarah Lamongan

Kyai M.Muzakkin (Gus Zakky Al-Sekanory), selaku Ketua Umum JCW (Jatim Corruption Watch) Provinsi Jawa Timur juga selaku Ketua pusat BPAN-RI(Badan Penyelamat Aset Negara Republik Indonesia) dan pengasuh pondok pesantren khusus rehabilitasi sakit jiwa dan narkoba "Asma'Berojomusti" Lamongan.

KILASMETRO|LAMONGAN – Jangan lupa dengan sejarah, pesan itu pernah  disampaikan oleh Presiden RI pertama Ir. Soekarno dalam kalimatnya yang sederhana yaitu JASMERAH artinya jangan sekali kali meninggalkan sejarah, kalimat ini singkat tapi mengandung makna yang luar biasa dan patut untuk direnungkan bersama  dalam rangka meningkatkan wawasan berpikir demi terwujudnya masyarakat yang adil makmur dan  sentosa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Perlu diketahui bersama, bahwa hari ini, Selasa, 26 Mei 2020 adalah Hari Jadi Lamongan (HJL). Yakni, 26 Mei 1569 – 26 Mei 2020. Tidak sedikit dari warganya yang ingat hari jadi Lamongan itu sendiri. Apalagi saat ini banyak warga yang sedang galau, diliputi dengan rasa cemas dan stress akibat dari wabah pandemi corona atau COVID-19 yang tak kunjung selesai ini. Walaupun demikian semoga semua warga lamongan diberi ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi corona ini.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren khusus rehabilitasi sakit jiwa dan narkoba Asma’ Berojomusti Lamongan, Kyai M. Muzakkin, bahwa Hari Jadi Lamongan itu bukan identik dengan kemeriahan hiburan di alun-alun dengan kembang apinya seperti dulu, tapi hari ini yang terpenting adalah do’a bersama oleh semua warganya walaupun hanya dari rumah akan keselamatan lamongan itu sendiri.

“Usia Kabupaten Lamongan hari ini sudah ke-451 tahun. Bagi generasi milenial juga harus mengetahui sejarah Lamongan itu sendiri. Dalam rangka untuk menambah wawasan kebangsaan dan wujud cinta terhadap tanah air tercinta”, tutur Kyai.M.Muzakkin.

Dia meminjam dalam bahasa cangkruk’anya warung kopi anak muda, “mosok orang Lamongan kok gak ngerti sejarahe Lamongan rek“. HJL ke 451, itu artinya titik mula ditetapkannya, hari lahir Lamongan pada 1569 M.

Mengapa pada tahun itu? Gus Zakky panggilan Kyai M. Muzakkin lebih jauh menyampaikan ceritanya, nah, pada tahun 1568, pasca kematian Sultan Trenggono, negeri di Jawa Timur banyak yang melepaskan diri dari Kasultanan Pajang, termasuk sebagian wilayah Jawa tengah. Dimana pada tahun itu Raja Kerajaan Pajang, Sultan Hadiwijaya dan para adipati  Jatim dipertemukan di Giri Kedaton oleh Sunan Prapen.

“Dalam kesempatan itu, para adipati tetap sepakat mengakui kedaulatan Pajang di atas negeri-negeri Jatim. Sebagai tanda ikatan politik, Panji Wiryakrama dari Surabaya (pemimpin persekutuan adipati Jatim) dinikahkan dengan putri Hadiwijaya. Kemudian negeri yang dinilai kuat lainnya yakni Madura juga berhasil ditundukkan Pajang. Pemimpinnya Raden Pratanu alias Panbahan Lemah Duwur juga diambil sebagai menantu Hadiwijaya”, jelasnya.

Selanjutnya majelis ulama Walisongo di kerajaan Demak yang memiliki peran penting berkontribusi mendirikan kerajaan Demak, bahkan ikut menentukan arah kebijakan politik di Demak merasa posisinya ikut lemah sejak meninggalnya Sultan Trenggana. Bahkan Sunan Kudus saat itu dituduh terlibat dalam pembunuhan Sunan Prawoto sebagai Raja baru pengganti Sultan Trenggana.

“Akan tetapi, meski tidak lagi bersidang secara aktif. Sedikit banyak para wali secara individual, masih ikut berperan dalam pengambilan kebijakan politik Pajang. Misalnya, Sunan Prapen, bertindak sebagai pelantik Hadiwijaya sebagai Raja. Termasuk yang melantik Ranggahadi, Tumenggung Surajaya sebagai Adipati Lamongan. Bahkan, Sunan Prapen juga mediator pertemuan Hadiwijaya dengan para adipati Jatim tahun 1568”, kata pria yang menjabat sebagai Ketua Umum JCW (Jatim Corruption Watch) Provinsi Jawa Timur.

Sementara itu, Sunan Kalijaga yang pernah membantu Ki Ageng Pemanahan meminta haknya pada Hadiwijaya atas tanah Mataram sebagai hadiah sayembara membunuh Arya Penangsang.

“Rentetan peristiwa itulah kemudian berimbas pada munculnya ide cemerlang urgens peningkatan status Lamongan. Dari Kranggan Lamongan (kampung) menjadi Kadipaten atau Kabupetan dengan cakupan wilayah lebih luas”, ujar Gus Zakky Al-Sekanory.

Gapura Paduraksa, pintu masuk Kabupaten Lamongan.

Lebih detail dia mengungkapkan, perubahan status dari Kranggan Lamongan, sebutan untuk kampung Kranggan (kampung Ronggo) menjadi lebih luas lagi Kabupaten atau Kadipaten Lamongan, ternyata tidak dilakukan oleh Kasultanan Pajang.

“Akan tetapi perkembangan Lamongan sampai akhirnya menjadi wilayah Kabupaten Lamongan berlangsung pada Jaman Keislaman Kasultanan Pajang tersebut dilakukan oleh Sunan Prapen dengan predikat Kanjeng Sunan Giri IV dan sekaligus menobatkan Surajaya menjadi Adipati Lamongan yang pertama”, ungkap Gus Zakky yang juga menjabat Ketua pusat BPAN-RI (Badan Penyelamat Aset Negara Republik Indonesia).

Dalam berbagai literatur disebutkan, Gus Zakky juga menyampaikan, bahwa saat itu di Kasultanan Pajang sedang ada persoalan. Pasca kematian Sultan Trenggono. Sehingga kegaduhanpun timbul dan membuat suasana pemerintahan agak terganggu sampai membuat jalannya roda pemerintahan di Kasultanan Pajang sedikit goyah. Apalagi, dengan munculnya ancaman dan ulah para pedagang asing dari Portugis yang ingin menguasai Nusantara.

“Adanya kondisi tersebut membuat Kanjeng Sunan Giri merasa semakin prihatin sehingga ada semacam kebutuhan untuk meningkatkan status Lamongan. Dari status Kranggan menjadi Kadipaten urgen untuk segera diselenggarakan dan mengangkat Ranggahadi Tumenggung Surajaya secara resmi menjadi Adipati Lamongan”, bebernya.

Gus Zakky menjelaskan, berdasarkan adat yang berlaku saat itu Ranggahadi Tumenggung Surajaya dilantik dan/atau diwisuda secara resmi menjadi Adipati Lamongan bertepatan dengan hari Pasamuan Agung Garebeg Besar yakni Idhul Adha tanggal 10 Dzulhijjah Tahun 976 Hijriyah yang diselenggarakan di Puri Kasunanan Giri di Gresik serta dihadiri oleh para pembesar yang sudah beragama Islam dan para Sentana Agung.

“Dalam perkembanganya Lamongan akhirnya  menjadi wilayah pusat perdagangan dan ladang dakwah, khususnya daerah pantura dengan dipromotori oleh para waliyullah seperti Sunan Drajat, Sunan Sendangduwur, dan ratusan wali lainya yang misteri”, pungkas Gus Zakky menegaskan bahwa cerita tersebut diambilnya dari berbagai sumber. (kiki/red).

Bagikan melalui :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •   
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan