Tanda-Tanda Kenormalan Belum Jelas, Gus Zakky : Begitu Pentingkah Menjaga Api Ta’awun

Kyai M. Muzakkin (Gus Zakky) Pengasuh Pondok Pesantren Khusus Rehabilitasi Sakit Jiwa dan Narkoba Dzikrussyifa Asma Berojomusti, Lamongan, Jawa Timur

KILASMETRO|LAMONGAN – Pandemi Covid-19 banyak memberikan dampak yang luar biasa  bagi masyarakat Kabupaten Lamongan. Tak hanya kesehatan saja yang terdampak, sektor lain juga mengalaminya terutama sektor perekonomian.

Berdasarkan data yang di update Tim Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Lamongan, Jumat (05/06/20) kemarin, warga yang terkonfirmasi virus corona masih menunjukkan kenaikan yakni menjadi 128, sedangkan PDP 183 dan ODP sebanyak 497 orang.

Agar bisa terlepas dari pandemi ini, untuk menuju tatanan kehidupan baru (new normal). Maka masyarakat dan pemerintah harus ta’awun yang berarti saling tolong-menolong, bahu-membahu, saling mendukung, saling menyokong dan bekerja sama.     

“Dimana tolong-menolong merupakan budaya luhur bangsa kita. Namun saat ini mulai terkikis dengan perkembangan zaman yang lebih modern dan teknologi yang semakin canggih. Sehingga manusia tanpa sadar mulai meninggalkan budayanya tersebut dan lebih memilih untuk bersikap apatis”, tutur Kyai M. Muzakkin kepada awak media di Ponpes Dzikrussyifa Asma Berojomusti, Lamongan, Jawa Timur, Sabtu (06/06/20).

Jika kembali berkaca dengan melihat kebiasaan orang dulu, lanjut Gus Zakky Al-Sekanory panggilan akrab Pengasuh Pondok Pesantren Khusus Rehabilitasi Sakit Jiwa dan Narkoba Dzikrussyifa Asma Berojomusti, maka didapatkan bahwa mereka sangat menjunjung tinggi perilaku tolong-menolong.

Tak hanya itu, sikap tolong-menolong (ta’awun) sangat mulia dan dianjurkan dalam agama Islam. Perilaku ini terukir dalam Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 2 yang artinya “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”.

“Tolong-menolong dalam jalan kebaikan adalah perintah yang sangat dianjurkan dengan maksud membantu meringankan beban seseorang tanpa mengharap imbalan”, terang pria yang hoby Nyarkub di beberapa makam waliyullah di nusantara.   

Selain itu, sambung Ketua Umum JCW, tolong-menolong itu terkandung nilai persatuan yang akan mengantarkan pribadi seseorang untuk saling menghargai dan menghormati tanpa memandang agama, ras, maupun suku. Sesuai yang dicontohkan oleh para pendahulu bangsa ini dan khususnya wali songo saat itu.

“Indonesia mendapatkan Kemerdekaan di satu sisi karena semangat juang dengan persatuan dan saling ta’awun, yakinlah bahwa semuanya itu lahir dari tradisi mulia yakni tradisi tolong-menolong”, terang mubaligh yang sudah memasuki usia 52 tahun.  

Gus Zakky menegaskan, saat ini sangatlah penting menjaga api ta’awun ditengah belum jelasnya tanda-tanda kenormalan di negeri ini khususnya masyarakat Kabupaten Lamongan.

“Ketidakjelasan tersebut justru seperti berjalan ditengah kegelapan. Bagaimana bisa demikian ? Karena pandemi Covid-19 belum selesai tapi kebijakan new normal tetap diberlakukan”, ucapnya.

Dengan menjaga api ta’awun, maka pertolongan Allah akan turun, sebagaimana telah dijelaskan oleh Rasulullah dalam hadistnya yang artinya, “Allah senantiasa menolong seorang hamba, selama hambanya itu menolong saudaranya”. Karena pada dasarnya ta’awun merupakan proses menjadikan suatu pekerjaan susah menjadi mudah.

“Untuk menuju tatanan kehidupan baru (new normal), baik pemerintah maupun masyarakat saat ini harus memprioritaskan keluarga kurang mampu (miskin) yang terdampak Covid-19. Dengan begitu, mudah-mudahkan kita semua senantiasa  secepatnya akan terbebas dari virus corona”, pungkas pria yang juga menjadi Ketua Pusat BPAN-RI (Badan Penyelamat Aset Negera Republik Indonesia). (kiki).

Bagikan melalui :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •   
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan