“Luar Biasa”, Pemuda Desa Sukosongo Sulap Limbah Sabut Kelapa Jadi Dua Produk Bernilai Ekonomis

Ahmad Hanif (dua dari kiri) Ketua Karang Taruna Karya Mandiri bersama Kepala Desa Sukosongo Akhmad Zainal Arifin (paling kanan) saat menunjukkan produk Cocofiber dan Cocopeat di Balai Desa, Rabu (08/07).

KILASMETRO|LAMONGAN – Pohon kelapa dikenal sebagai tumbuhan multi manfaat. Bahkan  kulit kelapa berupa serat kasar atau sering disebut sabut kelapa dapat diproses menjadi aneka produk kerajinan. Tak sedikit, hasil akhirnya bisa menjadi produk yang memiliki memiliki manfaat dan bernilai ekonomis.

Kreativitas luar biasa ditunjukkan pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Karya Mandiri Desa Sukosongo, Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan dengan memanfaatkan sabut kelapa menjadi dua produk unggulan yang bernilai ekonomis, yakni Cocopeat (media tanam) dan Cocofiber (pot tanaman). 

“Awal niatan menciptakan produk tersebut bermula dari banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di wilayah Kabupaten Lamongan”, kata Ketua Karang Taruna Karya Mandiri Ahmad Hanif, kepada kilasmetro.com di Balai Desa Sukosongo, Rabu (08/07).

Ketika melihat perkembangan di Lamongan, Hanif menjelaskan, belum pernah ada pot yang terbuat dari sabut kelapa (Cocofiber). Akhirnya dia bersama pemuda lain yang tergabung dalam Karang Taruna Karya Mandiri membuat pot beserta media tanamnya.   

“Kulit kelapa (sabut kelapa) kita giling menggunakan mesin menjadi dua bagian. Kemudian untuk bagian lembut kita jadikan media tanam (cocopeat) karena memiliki kemampuan menampung air cukup tinggi. Sedangkan bagian sabutnya dibentuk menjadi pot menggunakan kawat ram anti air”, ujarnya.

Dia menambahkan, pangsa pasar baik cocofiber maupun cocopeat ini sudah merambah ke beberapa kota lain selain wilayah Kota Lamongan. “Peminatnya lumayan tinggi dari kota lain, diantaranya Gresik, Sidoarjo, Surabaya, Bojonegoro dan terakhir itu kami juga kirim ke Ibukota Jakarta”, ucapnya.   

Menurutnya, cocofiber dipasarkan dengan harga bervariatif tergantung tingkat kesulitan dan ukuran besar kecilnya.

“Mulai dari harga Rp. 15 ribu sampai dengan Rp. 25 ribu, sedangkan media tanamnya kita jual dengan harga Rp.10 ribu per kemasan plastik”, akunya.

Cocofiber salah satu produk unggulan Karang Taruna Karya Mandiri Desa Sukosongo yakni pot ramah lingkungan yang diproduksi dari sabut kelapa.
Cocopeat salah satu produk unggulan Karang Taruna Karya Mandiri Desa Sukosongo yakni media tanam yang diproduksi dari sabut kelapa.

Dia juga menambahkan, kebanyakan para pembeli menggunakan pot tersebut untuk tanaman sejenis anggrek. Namun tidak menutup kemungkinan untuk jenis tanaman lain.

“Pot ini ramah lingkungan. Khususnya cocopeat sangat cocok digunakan sebagai bahan persemaian tanaman”, bebernya.

Ditemoat yang sama, Kepala Desa Sukosongo Akhmad Zainal Arifin, mengapresiasi lapangan usaha yang diciptakan oleh pemuda tergabung dalam Karang Taruna Karya Mandiri.  

“Kreasi mereka luar biasa. Ini adalah kesempatan untuk membuka lapangan usaha bagi warga Desa Sukosongo. Dan kreasi ini saya angkat menjadi UMKM Desa Sukosongo”, ungkapnya.

Dia berharap, kedepannya kreasi pemuda Desa Sukosongo ini selain mendapatkan dukungan dari Pemerintah Desa juga mendapatkan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Lamongan.

“Yang jelas kami hanya mengangkat, bagaimana kedepannya pot bunga yang ramah lingkungan ini bisa memberikan peluang lapangan pekerjaan bagi warga setempat”, pungkasnya. (tris/nur).

Bagikan melalui :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •   
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan