Beda Hasil Test Swab PCR, RS Prima Husada Sempat Bingungkan Warga Pasuruan

Hasil test swab PCR, DN dari RS Prima Husada dinyatakan negatif.

KILASMETRO|PASURUAN – Hasil test swab PCR (Polymerase Chain Reaction) yang dikeluarkan oleh rumah sakit yang berbeda sempat membingungkan DN, warga Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan dan harus masuk kerja selama sehari sebelum diisolasi pihak Tim Gugus Tugas Kabupaten Pasuruan.

Diketahui bersama, DN bekerja sebagai karyawan salah satu perusahaan di Kabupaten Pasuruan. Dia menjalani pemeriksaan test swab, Sabtu (20/06) di rumah sakit yang menjalin kerja sama dengan perusahaan di tempat dirinya bekerja, yakni RS Prima Husada Sukorejo.

Status awal DN saat sedang menjalani pemeriksaan di RS Prima Husada adalah OTG (Orang Tanpa Gejala). Namun karena dengan alasan alat di RS Prima Husada diduga kurang begitu lengkap. Maka sampel dirujuk ke RS Lavalette Kota Malang untuk dilakukan test swab PCR agar keberadaan material genetik dari sel, bakteri atau Virus COVID-19 bisa dideteksi secara jelas.     

Kemudian, Senin (29/06) kemarin, tertulis hasil test swab PCR dari RS Lavalette, bahwa DN dinyatakan positif terkonfirmasi virus corona (COVID-19). Akan tetapi hasil test swab PCR dari RS Prima Husada dinyatakan Negatif tertanggal 30 Juni 2020. Namun penyampaianya kepada DN itu lebih dulu RS Prima Husada dari pada RS Lavalette Kota Malang.

Hasil test swab PCR, DN dari RS Lavalette Kota Malang dinyatakan positif terkonfirmasi covid-19.

“Yang menginformasikan hasil test swab PCR pertama kali itu RS Prima Husada dengan hasil negatif”, ujar DN kepada kilasmetro.com, Kamis (09/07) siang.  

Dia mengatakan, dirinya sempat bingung dan masuk kerja selama satu hari di perusahaan tempat dirinya bekerja. “Karena hasil negatif tersebut, saya sudah masuk kerja sehari. Lah kok tahu-tahu muncul hasil swab dari RS Lavalette dinyatakan positif terkonfirmasi Covid-19”, ungkapnya.

Kemudian, Senin (06/07) kemarin Tim Gugus Tugas Kabupaten Pasuruan, menjemputnya untuk isolasi dengan protokol kesehatan yang sudah di siapkan oleh Kabupaten Pasuruan.

“Ya, sampai dengan saat ini saya isolasi di Dinkes Pasuruan. Sedangkan keluarga isolasi secara mandiri di rumah”, ucapnya.

Secara terpisah, Gandi salah satu petugas yang diduga turut menjemput DN enggan berkomentar dan mengharapkan awak media menanyakan langsung ke Tim Gugus Tugas Pasuruan. “Monggo ke gugus tugas di posko”, jawabnya singkat.    

Terkait hasil yang berbeda dengan RS Lavalette, dr. Eka penunjang medis  RS Prima Husada Pasuruan mengakui, dirinya sebagai penanggung jawab hasil test swab tersebut.

“Terkait perbedaan hasil tes milik DN, tanggal 30 Juni 2020 hasil dari RS Lavalete keluar. Dan saya baru menyadari kalau hasil tes itu kurang satu yaitu milik saudara DN. Saya sudah konfirmasi sama direktur. Untuk hasil punya DN, saya takedown dulu karena hasilnya tidak ada”, aku dr. Eka kepada sejumlah awak media, Senin (06/07).

Dia juga menambahkan, saat mengkonfirmasi RS Lavalette ternyata sampel DN dilakukan ulang test swab PCR karena butuh validasi.

“Butuh validasi untuk pasien DN ini, karena hanya ingin benar-benar memastikan hasil tes dan tidak terkontaminasi”, akunya.  

Kemudian, dr. Eka menambahkan, pada tanggal 01 Juli 2020 hasil dari RS Lavalette keluar, tertanggal 29 Juni 2020. Lalu dia menyampaikan kepada direkturnya untuk diteruskan ke perusahaan tempat DN bekerja.

“Ternyata hasil yang sebelumnya tidak di takedown. Itu yang membuat saya kaget. Saya sebagai penanggung jawab dari hasil tes ini meminta maaf atas kesalahan yang sudah terjadi”, jelasnya dengan nada rendah. (wan/nur).

Bagikan melalui :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •   
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan