Akademisi NU : Jangan Diburu Waktu, Khususnya Pembahasan Raperda RTRW

Fatkhur Rohman, salah satu akademisi NU Lamongan yang memberikan pendapat terkait Raperda Lamongan.

KILASMETRO|LAMONGAN – Rencana tata ruang wilayah Kabupaten Lamongan Tahun 2020-2040 dalam rapat paripurna Nota Penjelasan atas Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Kabupaten Lamongan, Kamis (09/07) lalu, ternyata menarik perhatian kalangan akademisi untuk memberikan penilaian tersendiri.

Fatkhur Rohman, salah satu akademisi Nahdlatul Ulama Lamongan, mengatakan pembahasan Raperda bersama elemen masyarakat harus dijadikan tradisi, seperti halnya yang diselenggarakan Fraksi PDI-Perjuangan DPRD Lamongan.    

“Tradisi ini harus dilanjutkan karena ini sikap yang bagus agar aspirasi masyarakat benar-benar tercover untuk ditindaklanjuti baik fraksi maupun partai PDIP ke rapat-rapat berikutnya”, ujarnya di kantor DPC PDI-Perjuangan Lamongan, Jumat (17/07) malam.

Fatkhur Rochman menuturkan, pembahasan Raperda Lamongan agar pelan-pelan saja, teliti dan tidak diburu oleh waktu. Karena berkaitan dengan pembangunan Lamongan jangka panjang.   

“Khusus mengenai raperda RTRW, saya berpesan agar dibahas pelan-pelan dan tidak diburu oleh waktu”, pinta Fatkhur Rohman.  

Menurutnya, ada salah satu yang krusial yakni adanya rencana pembangunan Lapangan Terbang (red_Bandara Udara) di salah satu daerah pertanian strategis dan produktif wilayah Lamongan yakni Kecamatan Sugio.

“Hampir setiap tahun Sugio itu tanpa tidak panen. Terus tiba-tiba ada Lapangan Terbang di sana. Bagaimana visibility studinya”, ucapnya.  

Dia berharap, pemerintah mempertimbangkan daerah lain yang lebih layak agar pertanian Kabupaten Lamongan tidak terganggu.

“Apa ndak mending di pantai atau di daerah pegunungan saja seperti di Mantup atau Ngimbang”, imbuhnya.

Di sisi lain, Ketua DPC PDI-Perjuangan, Sa’im mendukung pemerintah terkait adanya rencana pembangunan Bandara Udara di wilayah Sugio.

“Ya, kalau itu dengan tujuan mempercepat dan meningkatkan pertumbuhan perekonomian kenapa tidak”, katanya.  

Agar rencana pembangunan tersebut tdak menjadi masalah kedepannya karena Sugio memiliki lahan pertanian produktif, Sa’im mengatakan,

“Makanya hal ini perlu dibahas dan dispesifikan. Kalau pun itu bertentangan dan lain sebagainya karena lahan pertanian produktif. Ya, nanti di daerah lain untuk gantinya agar tidak menggangu para petani”, tandasnya. (nur).

Bagikan melalui :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •   
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan