Oknum Dokter Lamongan Jadi Tersangka Tidak Ditahan, Loh Kok Bisa

Suasana Ruang Sidang Tirta, : Agenda sidang keterangan saksi, Kasus KDRT yang dialami NDS, warga Kecamatan Paciran akibat dugaan pemukulan yang dilakukan suaminya dr. AM, Kamis (06/08).

KILASMETRO|LAMONGAN – Sesuai dengan aturan perundang-undangan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) seorang pelaku yang terbukti bersalah hingga ditetapkan jadi tersangka.  Maka dia (pelaku) tersebut harus ditahan, meski profesinya seorang dokter.

Pernyataan ini dilontarkan, Koordinator Advokasi dan Pendampingan APEL (Aliansi Perempuan Lamongan) Anis Su’adah, usai menyaksikan jalannya persidangan kasus KDRT yang dialami NDS karena diduga dipukul oleh suaminya, dr. AM, Kamis (06/08).

“Dokter itu kan sudah jadi tersangka. Apapun profesinya yang namanya tersangka harus tetap ditahan”, tegas Anis Su’adah.

Meski sebagai tersangka, dr. AM tidak ditahan. Tapi hanya menjalani hukuman tahanan kota sesuai persetujuan dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Lamongan.

“Saya tidak sependapat kalau jaksa (Kejari) menyetujui penahanan kota atas tindakan yang dilakukan oknum dokter. Kalau secara itu (Undang-Undang), dia (dr.AM) harus ditahan tidak boleh berkeliaran”, ucapnya.  

Dari beberapa kasus yang sama dengan tersangka yang berbeda, Anis menyimpulkan, ada pertanyaan besar dibenaknya. Karena pelaku selain berstatus tersangka juga jadi terdakwa.   

Anis Su’adah, Koordinator Advokasi dan Pendampingan Aliansi Perempuan Lamongan (APEL) saat ditemui awak media usai menyaksikan persidangan dugaan kasus KDRT di Pengadilan Negeri Lamongan.

“Seharusnya dia sudah ditahan (penjara). Karena dr.AM sudah jadi terdakwa. Tapi kok masih berkeliaran di kota gitu”, tandasnya.

Ditempat yang sama, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Lamongan, Suprayitno menjelaskan, perkara dugaan penganiayaan yang dilakukan terdakwa dr.AM itu ada bukti keterangan visumnya.  

“Ada luka di bibir. Setelah pemukulan itu, korban memeriksakan diri ke Rumah Sakit dr. Suyudi Paciran dan opname selama 2 (dua) hari. Jadi keterangan visumnya ada”, kata Suprayitno usai keluar dari Ruang Sidang Tirta Pengadilan Negeri Lamongan.  

Kenapa tidak dilakukan penahanan terhadap terdakwa dr. AM, Suprayitno menjawab, bukan kewenangannya.    

“Masalah penahanan tanya aja Kasi Pidum. Jangan tanya saya”, ucapnya.

Sementara itu, Kasi Pidana Umum Kejari Lamongan, Irwan Syafari membenarkan, tersangka dr.AM tidak ditahan (penjara) tapi harus menjalani tahanan kota.

“Ya, dia menjadi tahanan kota. Tanggal 22 Juni 2020, dia mengajukan permohonan. Sebagai tersangka dia mempunyai hak dan kewajiban, nah salah satunya itu hak penahanan kota”, ungkap Irwan.

Irwan menjelaskan, sebagai syarat permohonan tahanan kota, dr. AM juga ada yang menjamin.

“Yang menjamin, MU, kakak kandungnya, warga Sukodadi, Lamongan”, ucapnya.

Dia mempertimbangkan, untuk menyetujui permohonan penahanan kota tersebut karena tersangka saat ini sebagai Wakil Ketua Gugus Muhammadiyah Command Center Lamongan Covid-19.   

“Sekarang kan pandemi Covid-19. Jadi ndak mungkin to, kami langsung main nahan. Karena dia juga memiliki jabatan sesuai dengan surat penunjukkan direktur situ (RSM Lamongan)”, ujarnya. (nur).

Bagikan melalui :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •   
  •   
  •   
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan